Plesir Sambil Belajar Sejarah ke Goa Pasir

27 Agu 2017
1808
0

Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar nama Goa Pasir? Kemungkinan terbayang sebuah goa kawasan berpasir. Mungkin juga tebayang sebuah goa yang di dalamnya banyak pasir.

Tetapi Goa Pasir di Tulungagung ini bukan yang seperti Anda bayangkan. Dikenal dengan nama Goa Pasir karena goa ini terletak di Dusun Pasir, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.

Tidak sulit untuk mencapai Goa Pasir. Jaraknya kurang lebih 10 kilometer dari pusat kota Tulungagung. Kalau Anda dari pusat kota, cukup susuri jalan menuju arah ke Blitar. Anda akan melintasi wilayah Kecamatan Sumbergempol. Ada sejumlah penanda menuju Goa Pasir, terutama ketika memasuki Desa Junjung. Jika bingung, cukup bertanya kepada orang-orang Goa Pasir. Hampir semua orang di sekitar kawasan wisata itu tahu tempatnya.

Goa Pasir merupakan goa yang dibuat dengan melubangi lereng bukit. Untuk mencapai lokasinya, Anda harus melintasi jalan setapak berbatu-batu besar. Jalanan yang kondisinya terjal ini bisa membuat Anda harus sedikit merayap di bebatuan jika Anda ingin mencapai mulut goa.

Selain melihat sebuah goa, daya tarik Goa Pasir adalah keberadaan sejumlah benda purbakala seperti patung, berbagai pahatan/relief yang dipahat di bebatuan, makam kuno, dan goa. Sejumlah artefak dan arca kuno ada di sudut-sudut pelataran. Pemerintah sudah menetapkan kawasan ini sebagai lokasi cagar budaya.

Yang dimaksud sebagai goa adalah dua buah goa yang sengaja digali. Goa pertama adalah goa dengan relief berukuran goa 260 x 175 cm dan kedalaman 218 cm dengan ketinggian 200M di atas permukaan tanah tanpa disertai dengan tangga batu. Sedangkan goa yang tidak memiliki relief ukurannya lebih besar daripada goa pertama berukuran 305 x 255 x 190 cm dan kedalaman 255 cm posisi goa menghadap ke barat.

Menurut Drs. M Dwi Cahyono, M.Hum dalam bukunya yang berjudul Tabuta (Tapak Budaya Tulungagung) dijelaskan bahwa Goa Pasir atau yang dinamakan Situs Karsyan, berbentuk bangun landam kuda serta tinggalan arkeologi yang berupa goa pertapaan. Namun kini lingkungan goa lebih sering dikunjungi sebagai lokasi wisata saja.

Di area goa juga terdapat arca-arca batu andesit. Yang kini tersisa tinggal dua buah arca penjaga pintu (dwara pala) berbeda ukuran dan detail bentuknya, fragmen arca ganesha (gajah) yang ditengarai peninggalan masa kerajaan Majapahit.

Hal ini diperkuat oleh catatan seorang peneliti Belanda N.J. Krom dan Verbeek bahwa di situs Goa Pasir pernah ditemukan arca batu yang dipahat penanda angka saka 1325 (1403 M) dan 1224 S (1302 M) tahun 1302-1403 M yang berarti dari masa Majapahit.

Goa Pasir memang bukan sekadar goa. Sempatkanlah berkunjung untuk berwisata sekaligus belajar sejarah, ya!

Tinggalkan Balasan